Home

Cerpen 1

Sepasang Mata Sendu

Sepasang Mata Sendu

Sepasang Mata Sendu

Di selasar shelter Trans Jogja yang baru dibangun setengah tahun yang lalu itu, tubuhnya terduduk manis dengan sorot mata yang sendu. Sorot mata tak terbaca yang membuat hatiku tergelitik untuk menelisiknya lebih jauh. Sepasang mata sendu. Begitu aku biasa menyebutnya, karena matanya memang sungguh sendu. Bibirnya sesekali tersenyum dengan seberkas bilah yang teramat indah untuk dilukiskan. Sesekali tangannya terlihat menguatkan genggamannya pada sesuatu yang ia cengkeram di ujung lembaian jemari-jemarinya yang putih bersih. Lalu tersenyum lagi, sambil menatap payung yang ada di genggamnya itu.

Ya… setiap senin sore. Gadis berkerudung ungu itu selalu berdiam di situ. Di pojok shelter Trans Jogja yang berdiri tepat di Barat Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Ia selalu memesan selembar tiket untuk satu perjalanan, yang digenggamnya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya selalu membawa sebuah payung. Payung yang berwarna ungu. Setiap hari senin, dari jam empat sore sampai jam enam sore, dia selalu berada di situ. Entah apa yang ditunggu. Sayang, bus yang ku pakai selalu datang lebih cepat dari bus yang ia tunggu. Sehingga aku tak pernah melihatnya pergi.

Terkadang gadis berkerudung ungu itu membeli sesuatu yang ditawarkan oleh penjaja keliling yang mampir di shelter bus. Seperti roti, atau air mineral. Namun tak pernah ia memakannya, ataupun meminumnya. Selalu saja ia taruh di dalam tasnya yang tidak terlalu besar. Hanya tas selempangan yang kecil. Mungkin hanya muat dua bungkus roti dan satu botol air mineral.

Hari itu senin sore. Aku baru pulang dengan sedikit berlarian dan agak tergesa-gesa. Bus yang ku naiki biasanya sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Hufh, aku harus menunggu lima belas menit lagi untuk mendapatkan bus yang terakhir. Aku lalu segera memesan tiket, harganya lumayan merakyat yaitu hanya tiga ribu rupiah. Jilbab yang ku pakai agak sedikit basah, akibat hujan gerimis yang sampai saat ini belum berakhir sejak pagi buta. Kulirik jam tangan di lengan kananku, sudah hampir jam lima. Hmm.. paling tidak lama lagi busnya datang.

Mataku dengan agak sedikit liar menatap sekeliling. Menangkap apapun yang dapat diterima oleh neuron di dalam otakku, dan mengolahnya menjadi informasi-informasi yang dapat ku pelajari dan berharap kelak akan menjadi referensi yang berguna. Aku kini semester 5 di Fakultas Kedokteran. Masih lama untuk lulus. tapi aku ingin segera pergi dari universitas ini. Bukan karena aku tidak betah, tapi naluri untuk mencari ilmu di luar negeri sudah begitu menggebu-gebu. Yah semoga aku lulus cumlaude agar bisa mendapatkan beasiswa ke Jepang.

Mataku masih saja liar, mencari apa-apa saja yang dapat ku jadikan sebagai informasi sederhana. Mulai dari lekuk-lekuk wajah penjaga shelter, pohon beringin di sekitaran Fakultas Teknik yang terkesan menyeramkan, hingga pedagang roti keliling yang tak segan menyusup ke shelter untuk menjajakan dagangannya. Rupanya usaha pedagang roti itu tak sia-sia. Seseorang berkerudung ungu membeli dua bungkus roti dan satu botol air mineral, yang lantas ia masukkan ke dalam tas selempangan yang ia kenakan.

Eh ? gadis itu ? ia sudah sangat familiar di mataku.Ya.. di sini. Rasanya aku selalu melihatnya di sini. Hari senin minggu lalu ia juga di sini. Di shelter ini. Di tempat yang sama. Ia di pojokan itu. Selalu di situ.

Rasa penasaran membuat otak ku menggelinjang untuk menelisik lebih jauh tentang siapa gadis itu. Ku perhatikan tatapannya. Sungguh membuat ku iri. Tatapan sendu seorang bidadari. Menatap entah ke mana. Hidungnya kecil dan mancung. Bibirnya tersenyum dan dipertegas dengan alisnya yang melengkung. Sungguh indah. Wajahnya putih bersih, dan dibalut dengan kerudung warna ungu muda. Oh.. sungguhlah jika saja bidadari benar-benar ada, maka orang itulah wujudnya. Sekali lagi ku perhatikan matanya. Bola matanya berbinar-binar indah. Sesekali menatap sesuatu di ujung jemarinya, oh payung. Payungnya yang berwarna ungu.

Lalu, apa hal yang mebuatnya rela menunggu di sini ? di pojok shelter ini? Sendirian ? padahal suhu saat ini sangat dingin. Kasihan tubuhnya yang terkesan tidak begitu kokoh. Tapi lagi-lagi sinar matanya membuyarkan keraguanku. Tentulah ada suat hal yang membuatnya lebih kuat untuk bertahan dan menunggu. Menunggu apakah ? bus ? rasanya tidak mungkin. Bus terakhir telah pergi, dan aku bahkan rela membiarkan jatah tiket yang ku beli hangus begitu saja agar dapat menatapnya lebih lama.

@@@

Hari ini. Sudah satu bulan sejak pertemuan pertamaku dengan gadis itu. Dan hari ini, seperti biasa senin sore. Ia pasti ada dan kembali duduk di pojokan shelter itu untuk menunggu. Ya.. menunggu dengan sepasang mata bolanya yang indah. Hari ini, ku bulatkan tekatku untuk berbicara dengannya. Walau malu-malu. Walau ragu-ragu, namun hati ini sudah terlanjur bulat untuk memenuhi rasa penasaran sel-sel otak abu-abuku.

Tepat jam 4 aku sudah berada di shelter yang biasa. Aku sengaja bersiaga lebih cepat, agar bisa berbincang-bincang dengannya. Untunglah gadis berkerudung itu ada. Ia masih duduk di sana. Di pojok shelter dengan pakaian yang sama. Dengan kerudung ungu yang sama. Juga sebuah payung di ujung jemarinya.

Kusuguhkan ia dengan senyuman terbaik yang ku miliki. Oh.. ia membalas senyumanku. Bahkan dengan senyuman yang jauh lebih indah. Ku perhatikan matanya yang sendu. Sungguh indah. Semakin dekat menatapnya maka semakin indah. Lalu ku beranikan diri untuk bertanya namanya. Hmm.. nama yang indah. Suci, seperti wajahnya. Aku berusaha mengakrabkan diri. Dan untungnya ia sangat ramah, lembut , dan menyejukkan hati. Kalimat-kalimatnya bahkan terkesan sangat terasah. Ia bukan orang sembarangan. Gaya bahasa yang diucapkannya teramat sangat indah. Sepertinya berasal dari kalangan yang berpendidikan tinggi. Aku jadi semakin betah berbicara dengannya. Dialog-dialog yang disampaikannya kepadaku membuat aku semakin mengaguminya. Terutama kedua bola mata sendunya.

Lalu aku kemudian bertanya. Apa yang ia tunggu di sini ? ia hanya tersipu malu. Matanya kembali berbinar-binar dan tersenyum mesra. Kulit wajahnya yang putih bersih segera memerah. Aku mencoba menebak-nebak. Kakak kah ? atau adik? Dia menggeleng-geleng. Namun tetap tersenyum tanpa sepatah kata. Melihat senyumnya itu, aku mencoba menebak hal lain. Apakah seorang lelaki ? ia tersenyum dengan lebih mesra. Ku lihat kini kedua pipinya semakin merah. Ya.. kini aku mengerti. Rupanya Ia sedang menunggu seorang lelaki.

Lalu seperti apakah lelaki yang membuatnya jatuh cinta itu? Sampai-sampai membuatnya rela menunggu di sini, setiap senin sore. Menunggu, menanti-nanti dan berharap-harap cemas? Ia hanya tersenyum lagi. Senyuman bidadari yang membuatku iri. Ia tak mau menjawab, namun hanya memberikan takwilan dari sorot mata sendunya, pipinya yang memerah, serta senyumannya yang…. Sungguh-sungguh membuatku iri.

Apakah lelaki itu gagah ? ia tersenyum dan mengangguk pelan. Namun sepertinya bukan itu yang membuatnya teramat sangat jatuh cinta. Ia tampan ? lagi-lagi ia mengangguk pelan. Namun ia memberikan isyarat, bukan itu pula yang membuatnya sangat jatuh cinta. Lalu apa ? ia hanya semakin malu dan terus tersenyum padaku.

Matanya ?

Gadis itu tersenyum malu-malu. Dan kali ini ia menundukkan wajahnya untuk menyembunnyikan kedua pipinya yang sudah sangat memerah. Kini aku tahu. Ya.. tentulah mata dari pria itu yang telah membuat gadis berkerudung ungu ini sebegitu mencinta kepadanya. Oh.. sungguh aku tak mampu membayangkan sebetapa indah mata laki-laki yang telah membuatnya jatuh cinta sedemikian rupa. Melihat mata gadis ini saja sudah sungguh sangat indah. Aku tak bisa membayangkan sebetapa rupawannya mata pria yang ia maksudkan.

Ia lalu meminta izin kepadaku untuk pulang lebih dulu. Entah kenapa. Saat ini baru pukul lima lebih tiga puluh menit. Padahal yang ku tahu, ia biasa menunggu sampai pukul enam sore. Tapi biarlah, aku akan menemuinya kembali senin esok, untuk bercerita lebih jauh lagi. Untuk berbagi kisah lebih banyak lagi. Ia lalu melambai padaku saat tubuhnya semakin jauh dari shelter tempat kami berbincang. Bus yang terakhir memang sudah pergi sejak setengah jam yang lalu. Aku lagi-lagi membiarkan tiketku hangus. Tapi tidak apa-apa. Memenuhi rasa ingin tahuku tentang gadis itu lebih mahal harganya.

Eh.. apa itu ? itu.. payung gadis bermata sendu tadi yang tertinggal. Ah.. mungkin ia tergesa-gesa untuk segera pulang. Sehingga ia lupa mengambil payung berwarna ungu miliknya. Tapi tidak apa-apa. Kini aku adalah temannya. Biar aku saja yang menyimpankannya, untuk kemudian aku berikan lagi padanya senin berikutnya.

@@@

Sudah hampir jam enam. Namun gadis itu tak kunjung datang ? ah.. ada apakah gerangan? padahal aku sudah seminggu dengan sabar menantikan kedatangannya di sini. Di pojok shelter ini. Di tempat yang sama dengan tempat ia menunggu. Aku sudah membawakan payungnya yang berwarna ungu. Dan sekelumit cerita yang ingin ku bagi dengannya. Lelah aku menunggu, aku putuskan untuk memakan roti yang ku simpan di tas selempangan yang mrip dengan milik gadis itu. Dan meminum sedikit air yang tadi ku beli dari penjaja keliling yang biasa menjadi langganan gadis bermata sendu itu. Ah.. aku rindu tatapannya. Tatapan mata sendunya.

Entah kenapa ia tak datang hari ini? Dua minggu kemudian pun ia tak datang lagi. Tapi biarlah.. aku akan tetap di sini. Menunggu dan menanti-nanti. Walau ragu-ragu, aku akan tetap menanti kedatangannya di sini. Ya.. di sini.. di pojok shelter Trans Jogja ini. Dengan memakai kerudung warna ungu favoritnya. Dengan sebuah payung warna ungu muda di jemariku. Aku akan setia menunggu kehadirannya di sini. Karena mungkin ia akan datang senin ini, di sini. Atau senin depannya lagi.. atau senin depannya lagi.. atau senin depannya lagi…..

Ahmad Muhaimin Alfarisy

Jogjakarta, 7 January 2011

7 Comments (+add yours?)

  1. Kama Diksi UGM
    Mar 15, 2011 @ 13:20:47

    ayooo…mari bergabunggg…

    Reply

  2. Chae
    Feb 02, 2012 @ 15:11:23

    nanggung Fa. Ada lanjutannya -_-

    Reply

  3. Stella Swastika Putri
    Apr 07, 2012 @ 20:11:59

    keren…:)

    Reply

  4. Cynthia O P
    Apr 13, 2012 @ 09:00:53

    bagus tapi nangung. gag ada klimaksnya -__________-

    Reply

  5. ya... pengen ngirimin karya juga nih. Boleh nggak???
    May 25, 2012 @ 15:44:30

    saya boleh ngirim cerpen atau karya-karya lain nggak??? gmna prosesnya???

    Reply

    • Kama Diksi UGM
      May 25, 2012 @ 16:02:23

      boleh banget, kirim saja karyamu ke email kamadiksi ( kamadiksi[at]yahoo[dot]com ) .. jangan lupa kasih subject-nya misal “Editor-Cerpen-judul”.
      Insya Allah nanti setelah lolos editor nanti kami publish di website ini🙂 Kami tunggu ya, Salam KAMADIKSI

      Reply

      • ya... pengen ngirimin karya juga nih. Boleh nggak???
        May 31, 2012 @ 13:25:48

        oke siappppppppppp… tunggu ya karya saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: